• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy
IBX5AA3533ABC48F

Lorem ipsum

Rahasia Membuat Sarana Mandi Ruwat Untuk Peruntungan

 on Selasa, 04 November 2014  




Tradisi ruwatan telah ada sejak zaman sejarah para raja di tanah Jawa. Ketika itu ruwatan sering dipakai oleh seluruh keluarga istana. Ruwatan yang dimaksud di sini termasuk pula pada prosesi yang berhubungan dengan upaya memperbaiki kualitas jatidiri dan penampilan dengan menggunakan cara dan ramuan khusus. Contohnya, lulur kecantikan. Ini merupakan salah satu bentuk ruwat daya pesona, sehingga yang melakukannya menarik bagi siapa saja yang melihatnya.
Dalam mengenal dunia terapi gaib, sebuah ruwatan biasanya punya banyak racikan yang dicampur menjadi satu, yang salah satunya kemudian digunakan untuk sarana mandi.
Dalam sebuah pengolahan mistik, racikan yang terdapat dalam bahan pembuatan ruwatan terdiri dari beraneka macam bunga yang dicampur menjadi satu, di antaranya dengan sebutan kembang tujuh rupa. Lewat sebuah kesempurnaan lain, biasanya mereka terlebih dahulu meritualkan kidung, doa-doa, atau mantra Jawa sebelum ritual mandi ruwat dilakukan. Cara seperti ini dalam adat Jawa disebut dengan istilah �panghatur sesembah ing cahya ning agung�, yang dapat pula diartikan �memohon suatu pembuka aura dari sang pencipta alam.
Akibat zaman yang terus berkembang dari waktu ke waktu, istilah ruwatan mulai banyak digunakan di berbagai aktifitas kehidupan. Jadi bukan hanya sekedar untuk menggambar suatu ritual untuk membersihkan sengkolo badan kita, melainkan juga digunakan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti: membersihkan rumah dari gangguan bangsa gaib, membuka kemulusan derajat, mempermudah jual beli, meruwat anak yang mudah sakit, pengasihan badan, dan lain sebagainya.
Dari sekian banyak manfaat yang terdapat dari makna ruwatan, sebuah pemahaman para ahli bathin akhirnya membentuk beragam ruwatan yang mempunyai bermacam sifat dan pekerjaan, seperti yang bisa dilakukan dengan cara pertunjukkan lakon wayang kulit atau bisa juga dengan lewat dzikir bersama, menaruh berbagai sesajen, larungan, maupun yang berbentuk syareat lainnya.
Nah, seperti di zaman sekarang, ruwatan lebih banyak dikenal di masyarakat luas sebagai bentuk pembersih, dari berbagai sengkolo atau keapesan badan yang identik dengan terdapatnya aura hitam dalam diri seseorang.
Bahkan dalam bentuk komersial, ruwatan banyak diperjual belikan di berbagai iklan keparanormalan dalam bentuk minyak atau sejenis ramuan khusus berupa rempah-rempah.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana sebentuk ruwatan bisa dijadikan sarana menetralisir aura negatif yang terdapat dalam tubuh manusia ?.
Jauh di zaman pertengahan, para ahli sufi telah membedarkan berbagai keistimewaan tentang sebuah sarana pembangkit aura positif yang diracik dari berbagai bahan wewangian dan amalan khususiyah.
Lewat keluasan ilmu yang mereka miliki, lebih dari 1000 macam cara pembuatan sarana ruwatan akhirnya tercetus dalam karya mereka di berbagai kitab ilmu Al Hikmah .
Hanya saja, sebelum kami membedarkan lebih jauh, ada baiknya jika Anda memahami terlebih dahulu tentang devinisi dari ruwatan itu sendiri, yang selama ini dipercaya bisa dijadikan sarana pembersih dari aura hitam atau negatif yang terdapat dalam tubuh manusia.
Dari sebuah pemahaman para ahli spiritualis Kejawen, makna ruwatan lebih banyak diarahkan pada sifat pembuang sengkolo yang konon menutup segala aura yang terdapat dalam tubuh manusia. Biasanya hal seperti ini karena adanya suatu penghalang dari berbagai faktor keturunan atau bisa juga dari perbuatan diri kita sendiri, seperti sering melakukan perbuatan asusila, banyak minum yang berakhohol, pemarah, banyak menyiksa atau menyakiti orang lain, jauh dari kasih sayang orang tua, kurangnya beribadah, dan lain sebagainya.
Lewat faktor tadi manusia disunnahkan untuk membersihkan badannya lewat mandi ruwat. Mengapa ?
Dalam hukum Islam, membersihkan badan itu sangat dianjurkan atau bahkan diharuskan demi menjaga kesehatan dan menjauhkan dari segala sifat penyakit. Namun dalam pembedaran lain, yang dimaksud mandi ruwat disini bukan hanya sekedar mandi biasa melainkan punya tujuan khusus sebagai pembuka bintang terang kehidupan, sekaligus penghilang segala kesialan badan.
Nah, sebagai keluasan makna ruwatan, sejarah para wali telah banyak meninggalkan berbagai sarana ruwatan, seperti sumber mata air, sumur keramat, pancuran air tujuh dan sarana lainnya. Konon, sumber mata air ini banyak dimanfaatkan kalangan masyarakat luas, terutama para peziarah dan pencari berkah dari kekeramatan para waliyulloh zaman dulu.
Intinya, segala bentuk ruwatan yang ada hingga sekarang ini tak lain dan tak bukan, kecuali untuk suatu kemaslahatan dan keselamatan badan kita sendiri. Seperti yang dibedarkan dalam beberapa kitab Al � Hikmah, lewat kajian,� keistimewaan sebuah huruf �.
Dalam kitab ini diterangkan, bahwa apapun bentuk ruwatan tak lain hanya sekedar ikhtiar �Minjamiissalamah�, yakni mencari keselamatan badan. Dari pemahaman ini pula kita semua bisa menilai, bahwa ruwatan bukan sarana penebus dosa yang banyak dipertanyakan khalayak ramai, yang konon katanya, ruwatan sebagai sarana penghilang dosa, dimana badan kita sudah diruwat, maka dosa masa lalu kitapun akan sirna pula. Cara seperti ini menurut hukum Islam jauh bertentangan.
Islam mengajarkan lewat pemahaman yang dibawa oleh para waliyulloh, �Menangislah dalam kesaksian hatimu, bersimpuhlah dalam linangan air mata atas segala dosa yang pernah kita perbuat, mintalah ampun dengan rasa takut akan kematian yang sebentar lagi menjemput kita. Sesungguhnya hanya Alloh SWT, tempat kita mengadu, dimana hisab dan ketentuan hari akhir akan menjadi suatu pilihan bagi kita semua.� Demikian sebuah kalimat bijak seorang Kyai.
� Hati dan pikiran terkadang tidak saling menyatu. Kesadaran sebuah hati lebih peka terlampiaskan di dalam sebuah pengakuan tentang kesalahan yang pernah kita perbuat, sedangkan pikiran sering membuat hati kita lemah karena terus mengajak ke sebuah jalan kesesatan. Tiada badan yang suci sebelum hati kita bersih dan tiada penebus dosa sebelum kita memahami tentang keluasan ilmu Alloh.� Lanjutnya pula.
Jadi jelas sudah, dosa dan ruwatan tidak ada kaitan sama sekali, dimana ruwatan ini sekedar pembuka aura positif dari segala sifat sengkolo yang banyak terdapat dalam tubuh manusia karena suatu tingkah laku yang pernah diperbuat manusia itu sendiri.
Lewat pembedaran ilmu Al Hikmah, siapapun bisa membuat sarana ruwatan, yaitu dengan berbagai sarana wewangian, yang tentunya sudah dipilih sebagai dasar yang akurat menurut para ahli bathin terdahulu. Nah, Misteri di sini akan membedarkannya sebagai berikut.
- Siapkan 5 gr, minyak misik putih.
- 2 gr, minyak duyung (tanpa campuran)
- 3 gr, minyak ambar ood.
- Kayu cendana secukupnya, ditambah kembang tujuh rupa .

Cara pembuatan:
Campurkan semua minyak berikut kayu cendana menjadi satu. masukkan pula kembang tujuh rup
a didalam satu gelas air, bila semua sudah siap sedia, ritualkan sarana ini dengan sebuah amalan dari asma� bangsa Malaikat.
� Waas aluka minridhoillahi Malaikatulloh, MATHMAHTHOLQIYAAIIL, Wa Malaikatulloh, JAROMHAYAAIL, Wa malaikatulloh, THOLAKTHOYAIL, wahususon ila hadrotri biwasilatil waliyulloh wa asma sirri, BIRHATIHIN, KARIRIN, TATLIHIN, Syaiu lillahi , alfatihah, 11 x.
Bismillahirrohmanirrohiim, � Quddusun subbuhun, ilahi kulli syaiin ya Alloh, Quddusun Qodiirun, Subbuhun Quddusun, Khobirun, Mujiirun. 777 x.
Untuk memulai amalan paling baik dilakukan pukul, jam 24.00 ,s/d selesai. Dan pagi harinya semua sarana bisa langsung digunakan untuk mandi ruwat.
Bila anda ingin sekaligus membuka aura wajah, lakukan cara sebagai berikut. Siapkan (satu) buah kelapa hijau dan (satu) genggam kembang melati
Tepaslah kelapa bagian atas dan masukkan kembang melati didalamnya, biarkan bercampur bawur dengan air kelapa tersebut. Ritualkan kelapa ini bersama sarana ruwatan tadi dan sesudahnya bisa dipakai untuk membasuh muka wajah.
Hanya saja membuka aura ini paling bagus digunakan disaat menjelang akan tidur dan jangan dicuci hingga pagi hari, baru diteruskan dengan mandi ruwat.
Untuk melengkapi arti ruwatan Misteri akan membedarkan lebih seksama tentang sebuah manfaat amalan, dimana amalan ini mempunyai perbedaan antara satu sama lainnya. Tergantung dari tujuan yang mereka inginkan. Seperti kita ingin meruwat badan diri kita sendiri karena banyaknya melakukan zinah, maka perbanyaklah dengan membaca asma� astagfirulloh subhanalloh.
Tapi bila ingin membersihkan aura kita karena merasa sering menyakiti orang lain, maka perbanyaklah dengan membaca asma� walam yakun lahu babun ghoeruka ji�tukama a kasrotis dzunuub.
minum minuman yang berakohol, perbanyaklah dengan membaca asma� ilahi kulli syaiin aghisni ya Alloh, Untuk yang ingin meruwat karena merasa ban
Bagi yang banyak melakukan kesalahan terhadap orang tua, baik menyakiti secara bathin maupun fisik dan orang tersebut ingin bertaubat, maka perbanyaklah membaca asma� surat al ikhlas. ( Bismillahirrohmanirrohiim,Qulhuwallohu ahad Allohussomad Lamyalid walam yuulad walam yakun lahuu kufuan ahad)
Nah, sebagai kesempurnaan dari seluruh ruwatan disini adalah, perbanyak sodakoh terutama terhadap orang tua kandung dan juga anak yatim maupun orang yang membutuhkan lainnya. Semoga dengan kisah ini kita semua dijauhkan dari sifat sengkolo. Amin yarobbal alamin.

Rahasia Membuat Sarana Mandi Ruwat Untuk Peruntungan 4.5 5 Unknown Selasa, 04 November 2014 Tradisi ruwatan telah ada sejak zaman sejarah para raja di tanah Jawa. Ketika...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Blogger templates

J-Theme